Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja. Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir. (Pepatah Bugis)

Halaman Depan > Komunitas Ininnawa > Makassar yang Begitu Dekat

Makassar yang Begitu Dekat

Sabtu 20 Oktober 2007, oleh admin

Judul : Makassar Nol Kilometer
Penulis : Anwar J. Rachman, dkk.
Penerbit : Media Kajian Sulawesi dan Penerbit Ininnawa
Tahun : Oktober 2005
Hal. : 375 hlm.

Sabtu, 24 Desember 2005, untuk kesekian kalinya saya berlayar melintasi Selat Makassar dan Laut Jawa menuju Surabaya dengan armada Pelni, perusahaan negara yang seakan terpaksa menjadi aikon agar bangsa kita tetap dipandang mempunyai perhatian terhadap laut. Pelayaran kali ini berkesan sebab ada dua buku yang tidak sengaja saya simpan dalam-dalam di tasku. Dua buku itu adalah Makassar Nol Kilometer dan Tapak-tapak Waktu. Buku ini begitu menarik sehingga ada niat memberinya sesuatu yang spesial: membacanya di dimensi yang unik, di atas laut.

Kedua buku bertema budaya kesekian yang saya golongkan terbaik. Tapi jika diminta untuk memilih mana yang terbaik di antara keduanya, saya akan langsung menjawab “Makassar Nol Kilometer”! Ya, buku ini begitu unik, langka, dan tersirat prosesnya dipenuhi dengan idealisme. Ada banyak alasan mengapa saya memilihnya.

Pertama, sebagaimana yang terkutip di sampul bagian belakang “Buku pertama yang memotret warga Kota Makassar kontemporer lengkap dengan karnaval budayanya, seperti merayakan di alun-alun; di titik nol kilometer. Sebuah buku untuk mereka yang ingin tahu budaya-pop Makassar dan sekitarnya”.

Kedua, saya sebagai orang Sulawesi Selatan, apa yang dikemukakan dalam buku ini bisa diartikan “dimulai dari nol diri-sendiri”. Fenomena yang diceritakan 14 penulis ini adalah kejadian-kejadian yang sudah menyatu dengan keseharian kita dan menjadi bagian budaya yang beberapa di antaranya mungkin indigen Makassar. Bila ada orang luar yang 24 jam saja berada di Makassar, satu-dua dari puluhan komunitas, kuliner, fenomena, dan ruang yang ada di dalam buku pasti dialami: pasti melihat tukang becak (hal. 51); pasti melihat warung makan yang dinding depannya bertuliskan Coto Makassar, Sarabba, dan makanan khas Sulawesi Selatan lainnya; pasti mendengar logat orang Makassar (hal. 231, 260); dan pasti melihat pete-pete, si semut biru dari Makassar (hal. 203).

Ketiga, buku ini hasil karya generasi muda anak negeri yang memang sengaja ingin menghasilkan karya genre budaya dengan gaya yang berbeda. Jika membandingkan dengan buku Tapak-Tapak Waktu, maka dengan gampang kita akan menemukan perbedaan itu, misalnya asal penulis dan proses sehingga menjadi sebuah buku. Tapak-Tapak Waktu hanyalah kumpulan makalah tentang kebudayaan, sejarah, dan kehidupan sosial Sulawesi Selatan yang ditulis oleh 13 penulis yang berasal dari luar negeri, beda dengan Makassar Nol Kilometer yang tumbuh dari proses kebersamaan dan kesadaran diri para penulisnya.

Keempat, semangat riset dan menulis yang saya lakukan selama ini mempunyai benang merah dengan Makassar Nol Kilometer. Buku pertama saya sedikit-banyak mempunyai gaya yang sama, yaitu berupa esai singkat untuk tiap fenomena dan semua isinya didasarkan atas pengalaman pribadi.

Bacalah National Geographic (versi Indonesia sudah ada), maka Anda akan mengetahui tulisan ilmiah bisa dibuat bergaya bertutur, bergaya penulisan populer. Walau demikian, membuat tulisan singkat tidak gampang-gampang amat, dia laksana membuat sushi: bumbu hampir tidak ada namun dia haruslah enak dan sehat. Berbeda dengan membuat masakan Sulawesi Selatan, kualitas daging dan kemampuan koki yang mungkin kurang bisa ditutupi dengan bumbu yang entah berapa jumlahnya.

Kelima, buku ini bisa menjadi pengejewantahan “Katakan cinta dengan buku”. Ya, jika Anda orang Sulawesi Selatan yang merantau, misalnya menuntut ilmu di Yogya, dan mempunyai kekasih dari latar belakang budaya yang berbeda, maka berikanlah buku ini. Jika memang si Dia “bisa membaca”, maka dia akan memahami sebagian kehidupanmu!

***

Buku ini hanya membahas kehidupan di Makassar sebagai kota paling ramai di Sulawesi Selatan, sebagai tempat bertemunya orang-orang di Sulawesi Selatan dengan latar belakang yang berbeda, serta sebagai bagian sejarah dan budaya Sulawesi Selatan. Jadi, walaupun Anda bersuku Bugis, Toraja, Mandar, Jawa, dan suku-suku lain tetapi bermukim di Makassar untuk menuntut ilmu, berdagang, dan alasan lain, Anda menjadi dan berhak mengambil bagian cerita dalam Makassar Nol Kilometer. Dan meskipun Anda tidak pernah menginjak Makassar namun mempuyai ikatan batin-emosional, buku ini betul-betul bisa mencerminkan buku sebagai jendela: dari belahan dunia lain Anda bisa melihat Makassar dari titik nol kilometernya!

Di mata saya, buku ini begitu dahsyat: bersahaja namun apa yang coba disampaikan adalah sesuatu yang penting sebagai bagian dari sejarah. Selama ini kita dididik untuk menghargai sesuatu yang besar, hanya belajar dan menghargai kehidupan seorang tokoh (politik) dan pahlawan (di medan perang). Untuk mengambil hikmah dari “sejarah kecil” di kehidupan kita, seingat saya, tidak pernah diajarkan (mudah-mudahan saya yang salah ingat). Tidak pernah disampaikan tidaklah berarti “sejarah kecil” tidak penting. Malah untuk banyak kasus, cermin sebenarnya dari kehidupan dan budaya kita adalah “sejarah kecil” itu sendiri.

Kita, saya dan Anda, mungkin merasakan “suasana heroik” ketika menyaksikan para suporter begitu maniak membela PSM, melihat di layar kaca para mahasiswa dan penduduk melakukan tawuran. Ya, ada dalam hati kecil kita “keinginan” untuk terlibat: kira-kira suasana apa yang bisa melampiaskan “kekerasan” (ingat: bukan kekasaran) kita sebagai orang Sulawesi Selatan.

Fenomena menerobos padatnya lalu lintas ketika mengantar mayat ke kuburan mungkin menjadikan si pionir yang berada di atas motor dengan klakson entah pada desibel berapa dengan tongkat di tangan yang menerabas kiri-kanan mempunyai kemiripan Kahar Muzakkar yang mengantar Bung Karno menuju podium di tengah lapangan untuk berorasi. Pejabat atau profesor yang darahnya tidak punya sejarah “berwarna” biru atau bangsawan yang masih dipenuhi romantisme masa lalu yang merasa marah jika tidak dipanggil “puang” adalah warisan dari kefeodalan yang memenuhi sejarah Sulawesi Selatan. Sekali lagi, itu semua adalah cerminan dari sejarah dan budaya besar kita sebagai orang Sulawesi Selatan. Terlihat negatif, namun itu sisi-diri yang tidak bisa kita lepaskan.

Makassar Nol Kilometer mencoba memecah kekakuan tradisi ilmiah (baca: menulis) dalam kehidupan di Sulawesi Selatan. Ini pun bisa menjadi proyeksi atau pertanyaan bahwa “Apakah orang Sulawesi Selatan mempunyai tradisi menulis”? Memang pernah ada sosok Karaeng Pattingalloang dan memang ada kronik raja-raja, tetapi itu adalah “sejarah besar dan terjadi di lampau” yang mungkin menjadi semacam kasus yang tidak mencerminkan budaya kita secara lebih umum. Jadi bisa dijawab “Tidak”.

Jika memang ada penangkalan atas jawaban “Tidak” di atas, itu harus kita buktikan sendiri: ada Makassar “kilometer kesekian”, tapak dan lapis waktu sejarah, budaya, dan kehidupan orang Sulawesi Selatan yang dibuat oleh bumiputera, dan tiap bulan ada banyak buku yang lahir di Makassar. Dan kalau memang ada, haruslah bermutu!

Memang ada banyak buku yang terbit di Makassar, bila melihat grafik kuantitas semata, tetapi tidak banyak yang membuat kita “Tidak malu” untuk menyampaikan ke orang lain “Bacalah buku ini”. Memang melimpah tetapi itu hanya skripsi, tesis, disertasi yang disulap menjadi buku. Sulapannya begitu murahan: tanpa editing berarti dan skripsinya pun asal buat (malah banyak yang plagiat!). Buku yang baik tidak bersifat arsip semata, namun juga memberi pencerahan, baik bagi si penulis maupun pembacanya.

Kita sebagai generasi muda seharusnya tersadar ketika membaca buku Makassar Nol Kilometer bahwa untuk menulis budaya, tidak perlu takut. Kita bisa memulai dari apa yang terjadi di halaman rumah kita atau malah kasus dari dapur kita sendiri: dari titik nol dalam diri. Dan kalau memang ingin mendekati magnum opus Manusia Bugis, ya harus rajin membaca, melakukan perjalanan, mempunyai keuletan, ketekunan, serta kesabaran sebagai seorang peneliti. Jelas ini butuh waktu lama.

Kesimpulannya, untuk hasil riset atau tulisan tidak diukur dari ketebalan, lamanya riset, banyaknya dana yang digunakan, dan ketika tulisan itu dapat diwujudkan dalam bentuk buku, melainkan prosesnya, sekali lagi, yang mencerahkan diri. Makassar Nol Kilometer dapat menjadi pencerahan bahwa ilmu yang bisa ditulis tidak akan pernah habis meski itu hanya radius 1 km dari Lapangan Karebosi Makassar, apalagi kalau itu puluhan kilometer ke arah Mandar, ke Selat Makassar, ke Gunung Bawakaraeng, dan ke bumi Turatea.

*Penulis buku Orang Mandar Orang Laut (KPG 2005)