Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja. Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir. (Pepatah Bugis)

Halaman Depan > Komunitas Ininnawa > Siswa SMPN 24 Makassar "Menyulap" Sampah

Siswa SMPN 24 Makassar "Menyulap" Sampah

Minggu 30 Desember 2007, oleh admin

BANYAK cara mengubah sampah menjadi barang berharga. Bagi pelajar Kelas II SMP Negeri 24 Makassar, sampah disulap jadi karya seni. Di bawah bimbingan perupa Firman Djamil, mereka kumpulkan kain buangan penjahit yang ada di sekitar mereka. Hasilnya tidak kurang seratus lukisan kain perca mereka rampungkan. Ini sebuah tawaran metode pendidikan lingkungan hidup yang dapat direkomendasikan bagi kalangan pendidik. Bisa pula menjadi protes halus mereka terhadap pengelolaan sampah selama ini di Makassar.

”LIHAT warnanya!” ”Iya, khas anak-anak.” Yang tengah dibincangkan dua lelaki dewasa pada siang 28 Desember itu tak lain lukisan karya keroyokan Harson, Jihadi, Mariani, dan Neitha, siswa Kelas II SMPN 24 Makassar. Lukisan fotografik tanpa judul mereka merupakan salah satu dari seratusan karya lukisan kain perca siswi-siswa sekolah yang sama, ditampilkan di Ruang Pameran Komunitas Ininnawa, 27 November-1 Desember lalu. Lukisan tersebut menggambarkan seekor ikan kecil berkepala biru laut, mata putih, siripnya berwarna kuning, ekornya merah-hijau, dan bersisik hitam berenang di antara gelembung udara yang biru. Di depannya menganga ikan lain yang jauh lebih besar. Gigi tajam si besar siap meremuk tubuh si kecil. Ikan raksasa itu bermulut biru, kepala coklat, mata hitam-putih, dan berbintik bulat besar merah kuning. Sepintas lukisan itu bernuansa layaknya kanak-kanak dan remaja. Penuh warna. Dijejalkan begitu saja. Meski bagi saya, lukisan itu benar-benar mencengangkan. Warna dimasukkan dalam bingkai tanpa ada saling tabrak. Begitu padu. Bahkan sangat ceria. Ini tentu menunjukkan bagaimana mereka memadukan selera empat perancang dan pembuatnya. Namun bila melihatnya lebih dekat lagi, lukisan itu makin menarik. Guratan kasar terlihat jelas di kepala ikan. Sang pembuat rupanya menggunakan kain ’kulit jagung’—lantaran bertekstur laiknya kulit pembungkus buah jagung. Seakan-akan pembuatnya ingin menunjukkan bahwa rupa penguasa dan penindas memang buruk adanya. Karya lain yang menarik perhatian adalah Beautiful Way. Kriya keroyokan Murtiningsih-Ayu Ashari-Saharia ini matahari dan sebatang jalan. Namun kemandirian dan kemerdekaan mereka tegaskan dalam bingkai lingkaran. Warna matahari tak harus merah atau kuning, sebagaimana yang biasa kita lihat dalam banyak gambar. Mereka lebih berani. Matahari nyatanya tersusun dari banyak warna, bak kue lapis: hitam, orange, kuning, putih, biru, merah jambu, merah hati, juga hijau. Jalan pun begitu, terdiri dari susunan balok yang beragam corak dari segala warna. Tidak hanya hitam aspal, bukan cuma coklat tanah. Lain pula dengan karya Nur Ika SD yang menggambar sesosok perempuan cantik. Posisi gambar itu melintang diagonal. Bagian tertentu dari gambarnya melampaui bingkai. Tentu sebuah penempatan gambar yang cukup berani. Tak takut dicap salah, rasanya, sebuah modal penting dalam dunia pendidikan. Menikmati pameran ini layaknya memasuki dunia polos anak dan remaja. Ada yang menggambar lapangan sepakbola (Muh Irwan), Meyer yang membuat papan himbauan ”No Tauran Hati Nyaman”, kapal besar berbendera Merah Putih dan memiliki logo Superman (Fachri Cahyadi-Al Haidir-Suandi-Reski P), dan beberapa yang lain.

DERETAN gambar tersebut adalah contoh menonjol untuk mewakili sejumlah karya pelajar yang dipamerkan. Kebebasan dan kemandirian, serta kerjasama dalam mengerjakannya menjadi hal mengemuka. Itu kemudian ditampilkan di hari pertama pameran yang dibuka dengan melukis bersama para pelajar yang datang. Kali ini, bukan cuma berasal dari SMPN 24. Beberapa pelajar yang hadir ikut menyapukan kuas ke kanvas. Pembimbing siswa, Firman Djamil, menyebut sebagai satu terapi atas keterkungkungan mereka belajar dalam kelas. ”Itu terlihat sendiri ketika mereka kejar-kejaran dengan tangan penuh cat,” jelas Firman, yang juga perupa itu. Ruang pameran memang disesaki oleh pelajar SMPN24 sore itu, termasuk siswi-siswa Kelas I. Mereka datang untuk melihat karya dari kakak kelas mereka. Bahkan beberapa di antaranya ditemani oleh orangtuanya. Para pelajar sekolah yang berada Jl Baji Gau tersebut datang menumpang pete-pete yang mereka sewa. Mereka kumpul-kumpul uang saku mereka untuk datang, begitu kata Firman. Belum lagi beberapa siswa dari sekolah lain yang ikut meramaikan pembukaannya. Saya sendiri tidak menyangka, siswa dari SMPN 24 tidak akan sebanyak itu. Beberapa hari menjelang pembukaan pameran, Firman pesimistik akan kedatangan siswa yang dibimbingnya. Semua karena alasan ’tak ada dukungan dari kepala sekolah’. Tapi semua kecemasan itu buyar menjelang pembukaan. Mereka berkumpul dan memenuhi ruang pameran di lantai dua dan Biblioholic di lantai satu. Pameran bertema True Color ini dibuka oleh empat siswa sore itu. Mereka menumpahkan cat berwarna beda di empat sudut kanvas yang disediakan. Begitu keempatnya selesai menyapukan kuasnya, mereka diganti oleh para siswa yang hadir. Begitu seterusnya. Di arena pameran, pengunjung menyaksikan dokumenter proses siswa dalam membuat lukisan kain perca.

MASA pengerjaan karya sejenis dilakukan intens selama enam bulan penuh pada semester ganjil 2006 lalu. Tahap pertama, Firman menunjukkan ke siswa cara berkarya salah seorang seniman lingkungan berkebangsaan Inggris, Andy Goldsworthy. Gambar cakram padat (CD) berjudul River and Tides: Work with Time dipancar ke dinding kelas. Usai menonton, sang fasilitator, Firman kemudian menjelaskan tentang apa yang mereka tonton. Tahap pertama ini setidaknya butuh tiga kali pertemuan. Tahap kedua, di pekan keempat, siswa mulai praktik. Mereka mulai diajak mengembangkan gagasan dan teknis pengerjaannya. Tahap ini termasuk pula memilih bahan dari alam seperti daun mangga dan daun-daun kembang yang berwarna-warni. Kedua bahan itu dipilih karena hanya itulah yang tersedia banyak di sekitar mereka dan mudah dijangkau. Lalu pekan selanjutnya, para pelajar kemudian mulai mengerjakan karya mereka. Yang istimewa adalah siswa dilatih bekerja dalam ’tekanan waktu’. Mereka dituntut bergerak cepat sebab bahan yang mereka pilih adalah daun—yang punya keterbatasan waktu. ”Kalau tidak diselesaikan cepat, daun akan layu,” terang Firman. Seperti yang diharapkan, siswi-siswa berhasil mengerjakannya. Dari daun itu mereka membuat benda-benda semisal celana, baju, topi, dan lainnya. Begitu pula pola aturan waktu ketika mengerjakan lukisan kain perca yang dikerjakan semester berikutnya. Pengerjaan lukisan kain perca memang disadari butuh waktu yang cukup panjang. Bila waktu dua jam pelajaran (kurang lebih 90 menit) di sekolah tidak cukup, mereka dibolehkan membawa pulang dan melanjutkannya di rumah masing-masing. Kendala keterbatasan material pendukung praktik tidak menjadi masalah. Bahkan, siswa tetap diberi pilihan. Bagi yang tidak mengerjakan sendiri karena keterbatasan dana dan bahan, bisa mengerjakannya dengan berkelompok. Yang lainnya, bila merasa mampu, dapat mengerjakannya sendiri. Selesai karya bukan berarti selesai pula proses belajar. Selama setahun itu, pelajar Kelas II itu ditugasi membuat catatan pribadi tentang rangkaian proses hingga tahap akhir pembuatan karya tersebut. Catatan inilah yang menjadi ’ujian akhir’ bagi para pelajar itu. ”Catatan itu nanti mereka pakai sebagai panduan mereka seumur hidup tentang bagaimana mereka menggodok, merancang, sampai menyelesaikan karya mereka. Selesai diperiksa, semua dikembalikan lagi ke para siswa,” ujar Firman. Metode pembimbingan pelajaran seni rupa seperti itu, kata Firman, disesuaikan kemampuan siswa. Sebagian besar siswanya berasal dari keluarga yang berkemampuan ekonomi terbatas. Apalagi, kata dia, dukungan material dan moral dari kepala sekolahnya teramat minim. Bahkan karya-karya siswa sebelumnya, dianggap tidak berharga oleh sekolah. Kreasi mereka sudah dibuang. ”Yang tersisa itu, ya semua yang dipamerkan ini. Karya siswa di tahun-tahun sebelumnya dibuang oleh sekolah. Semua (karya mereka) dianggap cuma sampah karena habis dibakar,” cetus Firman. Informasi itu diperoleh Firman dari penjaga sekolah. Tiap tahun karya pelajar SMPN 24 berbeda. Sebelum lukisan perca, mereka dibimbing Firman membuat wayang dari sampah. Untuk itu, mereka berkunjung ke tempat pembuangan sampah di Antang. Siswa diarahkan bekerjasama dengan para anak pemulung. Semester berikutnya para siswa dibimbing diminta untuk mengenali lingkungan mereka tinggal, dengan menggambar jalan yang mereka lewati dari rumahnya hingga sekolah.

APA yang mereka lakukan tentu hanya hal kecil. Namun di luar sana, sampah menjadi masalah besar bagi Makassar. Berdasarkan data Kompas edisi 30 Juni 2007 lalu, rerata warganya menghasilkan sampah tidak kurang 700 ton atau 3.582 meter kubik setiap hari. Sementara tempat pembuangan sampah yang ada tentu memiliki batas daya tampung. Itu tentu saja belum termasuk sampah yang teronggok di rumah warga karena tidak terangkut oleh petugas. Solusinya? Bukanlah hal yang mudah. Mencari lahan kosong untuk menjadi tempat pembuangan baru tentu hal yang sulit. Sementara, kota ini, Makassar, kian rakus. Pohon ditukar dengan mal yang tumbuh di mana-mana. Bahkan, berdasarkan beberapa kali pernyataan dari pihak Pemkot, mal yang ada masih akan terus bertambah dengan alasan masih dibutuhkan. Dalihnya, tak pernah jauh dari pertumbuhan perekonomian, rasio penduduk, dan beberapa alasan lagi. Lahan makin sempit. Sampah jelas segera menggunung lantaran pola konsumsi pun tanpa batas. Padahal kota, bagi penghuninya yang berjumlah sekitar 1,5 juta jiwa ini, mestinya menjadi rumah yang nyaman. Lingkungan hidup yang baik tidaklah diciptakan dengan ratusan slogan, tapi cukup dengan tindakan. Apa yang dilakukan siswa ini, mungkin saja, tidak berarti dalam mengurangi kuantitas sampah. Tapi karya mereka memiliki proyeksi dan cita-cita yang besar. Segalanya berangkat dari kerja kecil untuk sebuah masa depan yang lebih baik.