(Muhammad Ruslailang Noertika)
Judul: Perempuan, Rumah Kenangan Pengarang: M Aan Mansyur Penerbit: INSISTPress, Yogyakarta, April 2007 Halaman: xii+186 halaman, 13×19cm
Sejak zaman dahulu, perempuan selalu menjadi pusat tragedi kehidupan. Lihatlah mitos kisah perang Troya dari Yunani dan sure’ La Galigo dari kesusatraan Bugis purba, perempuan menjadi tokoh sentral dalam kedua epos tersebut.
Pesona Putri Helena dari Sparta yang membuat pangeran Paris dari Troya mabuk kepayang, adalah muasal pecahnya perang dahsyat antara dua kerajaan Yunani purba; Sparta dan Troya. Dalam sure’ La Galigo, kisah paling dramatis didongengkan melalui perjalanan Sawerigading, sang bangsawan darah biru kerajaan Luwu purba, melanglang buana mengarungi samudra menghadapi sekian perang maha-dahsyat demi merebut cinta seorang perempuan yang nun jauh berada di negeri Cina Pammana – We Cudai.
Novel ini juga berkisah tentang perempuan – setidaknya ditampilkan dari sebahagian besar halamannya. Berangkat dari tutur seorang tokoh lelaki, tentu saja - Siapa lagi yang bisa mengapresiasi ke-perempuan-an secara sangat romantis – walau kadang sinis - selain lawan jenisnya? Demikian juga kisah lelaki dalam novel ini, yang menceritakan perempuan dengan romantis-puitis. Novel ini juga bercerita banyak tentang kisah yang sepi, sedih ; kanak-kanak hingga dewasa. Kesedihan dan kesedihan dihasilkan secepat senja yang muram mengganti siang yang riang.
Alur kisah seorang lelaki tokoh utama novel ini bernama Ian — mungkin sedikit diplesetkan dari nama penulis— dimulai dari masa depan. Seorang lelaki yang menjadikan dirinya sebagai puisi, duduk mengenang dibanjiri masa lalunya selepas membaca kartu pos yang dikirimkan oleh seorang perempuan, yang namanya tidak pernah disebutkan sepanjang novel ini, yang pernah meletakkan pondasi rumah kenangan di hatinya. Hal besar digerakkan oleh hal kecil [hal. 6], demikian alasan tokoh novel ini menuliskan kisahnya.
Kisah tentang masa kecil, buku, dan perempuan-perempuan yang pernah hadir di hatinya. Dari merenungi jawaban atas sebuah kartu pos bergambar wanita berpakaian hitam yang memeluk bebungaan putih, mengalirlah kemudian sebuah kisah rahasia yang terlipat rapi di sebuah rak di sudut kamar dadanya. Kenangan masa kecil, yang penuh dengan keajaiban dan dibesarkan oleh sepi, menjadi pembuka kisah ini. Aan menggambarkannya dengan indah; Bagaimanapun sepi dan tidak bahagianya masa kecil, ia tetaplah sebuah karya sastra yang sealu menarik untuk dibuka dan dibaca, dibaca lagi. Uniknya, setiap orang memiliki karya sastra nya masing-masing dengan sangat khas. Disitulah letak indahnya berbagi dan menziarahi masa kanak kita [hal. 22].
Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keajaiban bagi semua orang, terutama ketika mulai mengenal dan menyadari sesuatu. Namun di novel ini, keajaiban-keajaiban tidak lah cuma selazim itu. Memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib, terkadang selain dianggap kemampaun yang supranatural, juga membawa ’beban’ yang ironis. Terutama ketika si kecil Ian melihat cahaya serupa lilin kecil di bawah pohon besar di tengah pekuburan, tepat semalam sebelum mempersembahkan satu kenyataan yang menyesakkan, sang nenek Enda yang melepas raga. Kemampuan melihat cahaya lilin kecil itu menjadi semacam ramalan, bahwa akan ada yang pergi keesokan harinya. Hidupku memang sejak awal lebih didominasi perempuan. Aku senang diatur oleh perempuan. Aku senang dikuasai oleh perempuan [hal 67].
Perempuan, yang kemudian menjadi sentra kenangan, dibentuk dalam banyak wujud di novel ini; Nenek, Ibu, Riana, Esti, Hujan, bahkan Tuhan. Tentang perempuan dan penggambaran sosok Tuhan, novel ini memberikan kiasan yang ganjil tapi cerdas; Perempuan adalah nama lain dari Tuhan bagi bibir-bibir mungil anak kecil [hal. 53]. Atau ketika menceritakan sosok Ibu yang ditinggalkan ayah; Tuhan pasti seorang perempuan. Laki-laki tak bisa dipercaya [hal 62].
Seperti banyak sudah digambarkan oleh para penyair sepanjang masa, perempuan mendapat gambaran sangat istimewa di novel ini. Perempuan adalah keindahan yang banyak tersimpan di kepala orang, sesuatu yang tidak mati oleh mata pisau waktu [hal. 53] . Namun kadang membingungkan, ditinjau dari sikap yang sering ditempuhnya. Barangkali perempuan memang ditakdirkan menjadi sebuah lukisan abstrak – susah dan karenanya tak perlu dipahami [hal 61]. Hujan, juga mendapat tempat istimewa dalam pandangan sang tokoh; Setiap hujan turun, ada saja yang bisa dituliskan. Peristiwa alam yang paling inspiratif, indah dan cantik adalah hujan [hal 55]. Ya, terlalu banyak kata ’hujan’ yang bisa ditemukan di novel tipis ini.
Klimaks dari novel ini, kalau kita bisa menyebutnya demikian, adalah tentang seorang perempuan – yang tak pernah disebutkan namanya sepanjang kisah ini. Kisah-kisah percintaan sang tokoh dengan perempuan ini digambarkan seperti musim. Musim semi dan musim gugur. Musim semi yang indah dimulai saat Ian membaca geligi perempuan itu; seperti deretan huruf-huruf sebuah puisi yang terindah yang belum pernah dituliskan oleh penyair siapa pundi dunia ini. Geligi yang memenjarakan aku seketika…[hal 96]. Selepas itu, tiga tahun sembilan bulan, sepasang kekasih itu meretas dan memintal kisah bak di surga. Apa sesungguhnya yang diinginkan lelaki dan perempuan dalam hidupnya? Simpel. Laki-laki; ingin haknya terpenuhi dan tak akan minta lebih. Perempuan; ingin haknya terpenuhi dan tak akan ada yang kurang [hal. 108] . Demikian Aan membandingkan dua jenis manusia itu.
Kemudian, di akhir percintaan mereka mulai memintal benang kasih menjadi tenunan bernama kenangan. Ya, kenangan. Karena kemudian yang tersisa hanya itu di akhir musim gugur, ketika si perempuan menikah dengan lelaki yang gagah, taat beragama, cukup kaya, mandul dan tidak berumur panjang. Tragis.
Mungkin hanya sosok lelaki saja yang paling sial dalam novel ini, meskipun sang tokoh berjenis kelamin lelaki. Pengalaman memiliki kakek dan ayah yang bajingan, membuat tokoh Ian menganulir semua kelebihan-kelebihan lelaki;. Lihatlah, Ayah pergi dan tak pernah punya rasa rindu pada istri dan anaknya. Lihatlah, Kakek suka menikahi perempuan-perempuan lalu meninggalkannya seperti sampah. Apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki? Apa? Tak ada kecuali hal-hal bajingan [hal. 62] . Bukankah pria dan ayah adalah bajingan? [hal 66]. Dan kemudian ditimpali dengan pertanyaan pembangkangan; Apa maksudmu melahirkan aku sebagai lelaki, Tuhan?
Namun tidak semua lelaki adalah bajingan. Ada sosok Rahman yang menjadi lelaki sempurna di benak sang tokoh. Rahman yang cerdas, pencinta buku dan sarjana yang memilih hidup menjadi peladang dan pedagang gula merah, menjadi inspirasi kuat yang mendorong sang tokoh menjadi penulis; menulis adalah perang melawan sepi [hal. 33].
Tentang Buku, dan Melulu Buku! Dari masa kanak-kanak nan sepi, kemudian kita dibawa menjelajahi kisah yang lain yang juga diparalelkan dengan kecintaan sang tokoh pada satu hal paling penting yang diceritakan berulang-ulang di sepanjang novel ini, buku! Ya, Buku menjadi semacam tinta perekat bagi keseluruhan kisah dalam novel ini. Buku, mungkin seharusnya menjadi inspirasi satu-satunya sehingga seluruh kisah tentang perempuan ini dibuat. Buku itu seperti kapak es yang akan memecahkan seluruh kebekuan dalam dada kita [hal. 31].
Dari perkenalannya dengan tokoh lelaki baik bernama Rahman, hingga kisah asmaranya dengan beberapa perempuan sampai kepada perempuan terakhir yang mengisi relung hati sang tokoh, perempuan yang hingga di akhir cerita tak pernah disebutkan namanya. Betapapun pedih kisah asmaranya di akhir cerita, toh memberikan sebuah "Rumah Buku" yang menjadikan kenangan itu adalah ibarat monumen yang dibanggakan.
Juga ada kisah tentang orang-orang baik dan aneh yang menggemari buku. Bermula dari ketertegunan akan sepasang lelaki aneh yang membawa tas besar berisi buku-buku di punggungnya, yang disaksikan sang tokoh saat di bangku kuliah [Bab Orang-Orang Aneh dan Buku]. Ia menyebutnya, Perpustakaan Punggung. Dua lelaki itu, sungguh, betul-betul membawa perpustakaan di punggungnya masing-masing. Dua orang seperti inilah yang dibutuhkan dunia…Ternyata, selalu saja ada jalan untuk melakukan hal-hal baik [hal. 87].
Berawal dari pergumulan dengan komunitas aneh pencinta buku lah, si tokoh Ian membuat mimpi, mimpi yang dikemudian hari diwujudkan bersama sang perempuan yang tidak disebutkan namanya itu disebutnya, "Rumah Buku".
Dalam pengantarnya, Aan memberikan apresiasi maksimal untuk lembaran kertas bertulis itu. Tak ada sekolah sehebat buku-buku. Tak ada sahabat sesabar halaman-halaman buku [hal ix], dan dihalaman yang sama; Aku selalu membayangkan surga itu seperti perpustakaan. Untuk itu aku ingin menjadi penjaga surga, penjaga perpustakaan.
Membaca apresiasi Aan terhadap buku, maka tak heran kalau Aan kemudian melabeli blognya sebagai pecandubuku ( http://pecandubuku.blogspot.com), dan memperkenalkan pekerjaannya sebagai pustakawan di Biblioholic [halaman akhir novel; Tentang Penulis].
Terlalu sulit untuk tidak menduga-duga bahwa novel ini bukanlah rentang bentang lengang jalan hidup seorang Aan Mansyur. Sejatinya kisah-kisah yang diungkap dalam novel ini lebih tepat disebut autobiografi puitis, bahkan untuk kisah imajiner tentang sebuah kartu pos yang tiba di masa depan, pagi di tahun 2020.
Kisah imajiner itu mungkin adalah proyeksi nyata dari sepenggal kisah yang ditapak di masa sebelumnya. Apakah ini benar kisah hidup seorang penyair Aan? Hanya Aan saja yang tahu, dan kita tidak perlu mempersoalkannya. Yang jelas, Aan sempat menyelipkan sesuatu yang bisa dianggap jawaban atas pertanyaan ini di halaman pengantarnya; Di Beranda Sebelum Masuk;
Masa kanak-kanakku menyerbu tak bisa kuelakkan – memaksaku menuliskan sesuatu tentangnya. Atau pada frase lanjutan: Aku adalah anak durhaka yang malas pulang menjenguk kampung dan masa lalu….Novel ini adalah bayaran atas kesalahan itu – yang tentu saja tak pernah mampu setimpal.
Sebagai seorang penyair yang pendiam, Aan malah maruk menghamburkan kata-kata manis nan puitis dalam menulis, terutama ketika bertutur tentang kisah yang teramat membekas dalam perjalanan hidupnya. Anda yang menggemari tiga hal; puisi, buku dan perempuan dijamin akan mengalami ejakulasi perasaan yang tereksitasi ke tingkat sedemikian rupa pada saat mencapai kata terakhir dalam novel ini, dibagian manapun anda mengakhiri pembacaan.
Jika semua orang punya kemampuan menuliskan kenangan sebaik Aan, maka niscaya toko-toko buku dan perpustakaan akan dipenuhi oleh novel-novel atau autobiografi yang luar biasa menggugah. Bukankah masa lalu setiap manusia itu pasti unik sehingga, dengan demikian, menarik?