Ininnawa: Pilihan dan Sikap
Kamis 1 Maret 2007
Puisi Robert Frost, The Road Not Taken, sangat baik menjadi ilustrasi fenomena sosial saat ini. Penggalan terakhir, Two roads diverged in a wood, and I—/I took the one less traveled by/And that has made all the difference, menunjukkan suatu keteguhan sikap dalam menjalani pilihan. Robert Frost ingin mengatakan kalau banyak orang yang tidak bersikap dalam memilih, hanya mengikuti jalan yang telah ada atau tidak pernah menentukan pilihan. Memilih jalan atas kesadaran penuh, meskipun jalan itu penuh semak belukar dan duri, adalah terbaik ketimbang ikut pilihan orang lain.
Menentukan satu pilihan berarti berani mengorbankan pilihan lain. Pilihan menjadi masalah bagi kita jika masih terdapat keraguan. Keteguhan sikap harus ada dalam memilih sesuatu. Banyak orang bingung memilih. Ada orang asal memilih. Tapi banyak juga yang tidak bisa menentukan pilihan, menyerahkan pilihannya pada orang lain atau mengikuti pilihan orang lain. Dan tidak sedikit yang ragu akan pilihannya.Akhirnya pilihan itu menjadi masalah baginya dan atau orang lain. Masalahnya bukan pada masalah yang ada tapi menyalahkan pilihan yang dia putuskan.Masalah bukanlah sebuah pemberian (given). Ia menjadi bagian hidup kita.
Masalah adalah sebuah tantangan untuk mencapai tujuan. Baik persoalan kebijakan negara dalam politik internasional maupun persoalan kecil dalam rumah tangga kita sekalipun, masalah selalu ada dalam semua pilihan yang kita ambil. Pilihan, dan masalah tentunya, tidak dapat dihindari. Yang terpenting adalah sikap dalam memilih jalan itu. Memilih tidak berhenti di situ saja. Kita harus menerima semua konsekuensi jalan yang kita tempuh, dengan tidak menyalahkan pilihan tapi memperkuat sikap terhadap pilihan itu. Kendala dan masalah tentu ada tapi jangan menyalahkan pilihan itu. Jadikanlah ia suatu pengalaman terbaik.
Setiap orang, baik politisi sampai orang biasa, memiliki cita-cita atau harapan. Kita bertemu dan membangun suatu visi dari cita-cita yang sama. Banyak cara atau media jalan yang kita tempuh menggapai visi. Membentuk sebuah organisasi, institusi, atau partai hanyalah media berproses menggapai cita-cita, bukan tujuan. Tahun 1998 – 2000, berbagai kasus bermunculan di Indonesia. Salah satunya kasus Koperasi Usaha Tani (KUT) yang dikelola berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Cerita miring tentang LSM—menyalahgunakan dana KUT untuk para petani—menambah deretan kekecewaan kita. Sebelumnya, masyarakat yang telah kecewa terhadap pemerintah menaruh harapan pada aktivis LSM yang selalu memperjuangkan hak-haknya. Kasus demi kasus beragam terus bermunculan.
Fenomena itu membekas dalam ingatan masyarakat: tak ada lagi yang harus dipercaya. Jika kepercayaan mulai hilang yang muncul adalah kecurigaan. Hanya ada dua pilihan: membodohi atau dibodohi. Siapa yang berkuasa pasti menindas. Sistem sosial yang sarat dengan nilai-nilai akan berubah menjadi hukum rimba: masyarakat tak beradab. Fenomena itu menjadi bahan diskusi di mana-mana, dari ruang seminar sampai warung kopi. Beragam kesimpulan lahir tapi hanya ada satu yang sama: niat baik (ininnawa). Program-program pemberdayaan bukanlah hal baru di negeri ini, baik yang dilakukan pemerintah maupun organisasi non pemerintah (ORNOP). Namun yang belum nampak adalah ininnawa atau ikhtiar.
Kesadaran itulah mejadi pilihan dalam berbuat. Persoalannya: apakah innnawa sudah cukup? Tidak. Ininnawa tanpa kerja hanyalah angan-angan belaka. Sementara kerja tanpa ininnawa adalah malapetaka. Niat baik dan kerja bukanlah pilihan tapi kedua-duanya harus berpadu. Seseorang atau lembaga yang memiliki visi harus menyandarkan pada dua hal itu. Ber-ininnawa pun tidak butuh modal tapi mengaktualisasikannya butuh modal yang harus diperoleh dari kerja, bukan dari lainnya. Mengherankan memang, sesuatu yang tidak butuh modal sulit terwujudkan.
Ininnawa apakah sebagai kata atau nama lembaga tidaklah penting. Kata hanya digunakan sebagai tanda atau penanda dari yang ditandai. Begitupun sebagai nama lembaga juga hanya salah satu persyaratan administrasi dalam lembaran negara. Yang terpenting adalah perwujudan dari kata atau nama itu. Bagi mereka yang memilih kata ininnawa sebagai nama lembaganya adalah suatu pilihan dan sikap yang jelas: ber-ininnawa itu sendiri. Meskipun tidak semudah mengucapkannya, tapi ia telah menjadi semangat dalam beraktifitas baik secara individu maupun lembaga.
Situs dibuat dengan SPIP 1.9.2 + ALTERNATIVES
