Menunggu Perempuan Menulis Novel
Kamis 1 Maret 2007
Kurangnya jumlah perempuan penulis di Sulawesi Selatan menjadi dasar pelaksanaan kegiatan ini. Dunia tulis-menulis masih didominasi oleh pria. Hal ini juga berimbas pada perspektif penulisan. Rumah Kamu (Rumah Kaum Muda) pelaksana kegiatan yang berkerja sama dengan Insist Yogyakarta, Kafe Baca Biblioholic dan Penerbit Ininnawa menganggap hal itu sebagai masalah yang perlu disikapi.
Menurut koordinator kegiatan ini, Ni Nyoman Anna Marthanti, setidaknya ada tiga target yang ingin dicapai Women Write Novel (WWN). Pertama, penambahan jumlah perempuan penulis. Kedua, hadirnya perspektif perempuan dalam karya sastra. Dan terakhir, bertambahnya keterampilan para perempuan penulis tersebut dalam menggarap sebuah karya, utamanya novel.
Tak jauh berbeda dengan target yang diharapkan oleh pelaksana WWN, peserta tampaknya memiliki motivasi serupa. Salah seorang peserta, Shanti, ibu rumah tangga, mengatakan bahwa melalui WWN ia ingin menambah keterampilan menulis dan mendapatkan cara pandang perempuan dalam menuliskan masalah-masalah perempuan sendiri di samping mengisi waktunya sebagai ibu rumah tangga.
Hal itu diamini oleh Rosa Amelia, mahasiswa jurusan Fisika Universitas Hasanuddin, yang menganggap masalah-masalah perempuan yang semakin kompleks seharusnya dituliskan melalui sudut pandang perempuan sendiri. Menurut Rosa, perempuan jelas lebih peka dalam menuliskannya sebab merekalah yang mengalaminya sendiri. “Intinya perempuan seharusnya menuliskan kesaksian mereka atas masalah-masalah yang dialami kaumnya,” kata Hasni, mahasiswa Fakultas Kedokteran Unhas.
Dengan pertimbangan target itulah, Rumah Kamu menghadirkan Saleh Abdullah (sekjen Insist) sebagai fasilitator untuk materi hak asasi manusia, Roem Topatimasang (penulis dan aktivis transformasi sosial) sebagai fasilitator materi analisis sosial dan etnografi, Fitri Andyaswuri (aktivis perempuan dan psikolog) fasilitator analisis gender, dan Puthut EA (prosais) sebagai fasilitator teknik penulisan.
Hari pertama diisi dengan perkanalan antarpeserta, fasilitator, panitia, orangtua angkat, dan aparat desa. Kemudian, peserta bersama-sama dengan fasilitator dan panitia membuat kontrak belajar; menyusun jadwal, mendiskusikan metode pembelajaran dan hal-hal lain untuk kelancaran workshop. Setelah itu, peserta kembali ke “rumah” masing-masing melakukan sosialisasi bersama keluarga angkat.
Hari kedua diisi dengan materi analisis hak asasi manusia. Peserta dibagikan sebuah cerita yang disadur dari Les Miserables karya penulis besar Perancis, Victor Hugo. Peserta diminta mendiskusikan pelanggaran-pelanggaran hak asasi yang terjadi dalam kisah tersebut. Sore hari dilanjutkan dengan materi analisis gender melalui diskusi masalah yang diangkat dari cerita yang telah disiapkan sebelumnya. Malam hari peserta yang dibagi tiga kelompok mengerjakan tugas; masing-masing kelompok membuat sebuah lakon bisu masalah-masalah perempuan untuk dipentaskan esok paginya. Satu kelompok bertugas membuat lakon bisu tentang perempuan usia anak dan remaja, kelompok lain untuk usia produktif dan juga perempuan usia lanjut. Hari berikutnya dibuka dengan pentas lakon bisu yang telah dipersiapkan oleh kelompok masing-masing. Dan kemudian dilanjutkan dengan diskusi. Setelah rehat, Roem Topatimasang mengajak peserta menonton dua film pendek; tentang para perempuan penjual jamu bakul di Paotere, Makassar, yang dicap bisa diajak kencan. Juga tentang kisah berjudul Dilarang Makan Kerupuk, esai visual tentang bagaimana anak-anak di Tompobulu mengonsumsi makanan instan (semisal kerupuk) yang dalam setahun bisa menghabiskan uang belanja Rp54 juta.
Berangkat dari dua film pendek itu peserta diajak mendiskusikan wacana analisis sosial dan etnogafi. Setelah itu, peserta diminta menjelajahi desa untuk mencari masalah-maslah yang menarik untuk dituliskan. Malam harinya, bersama penduduk desa, peserta menonton tiga film pendek lagi; Perempuan Besi Gunung Perak (perempuan-perempuan pandai besi di salah satu dusun di Kabupaten Sinjai), Sederhana tapi Nyata (kisah seoang perempuan tua bernama We Cenning yang membuat dinding bambu untuk semua rumah di desanya), dan Jalan Sekolah (kisah sekelompok murid sekolah dasar yang harus membelah hutan dan mendaki-menuruni gunung agar bisa tetap sekolah).
Dua setengah hari selanjutnya digunakan untuk materi teknik menulis. Puthut EA, prosais yang sudah menerbitkan delapan buku, mengajak peserta mendiskusikan teknik penulisan. Melalui berbagai latihan dan apresiasi karya, peserta dilatih berbagai teknik- menulis; pembuka yang baik, menajamkan konflik, memperkuat karakter, membuat deskripsi, irama dan tempo kalimat, sampai pada menghindari KKM (klise, khotbah, dan menyimpulkan) dalam tulisan. Di awal materi Puthut juga sempat mengajak peserta mendiskusikan ekonomi-politik sastra; posisi penulis, karya, pembaca, penerbit, kritikus dalam sirkuit dstribusi karya sastra.
Di hari pertama peserta telah diminta mendaftar pertanyaan-pertanyaan mengenai teknik menulis yang ingin mereka ketahui kemudian dipasang dan dipajang di dinding ruangan. Pertanyaan-pertanyaan itu menjadi salah satu acuan dalam membahas teknik penulisan.
Di hari terakhir, melalui foto-foto, Fitri Andyaswuri kembali mengajak peserta membuat cerita tentang perempuan. Peserta, dengan bekal teknik menulis yang sudah didapatkannya, masing-masing menuliskan cerita pendek kemudian diapresiasi oleh sesama peserta. Sore harinya, peserta bersama panitia berkesempatan mendaki gunung, beberapa orang sampai di puncak Gunung Bulusaraung, salah gunung tertinggi di Sulawesi Selatan, meskipun hujan dan kabut menyusahkan mereka.
Kumpulan Cerpen
Sebelum meninggalkan kaki Gunung Bulusaraung dan kembali ke Makassar, Penerbit Ininnawa melalui direkturnya, Anwar Jimpe Rachman, menyampaikan sebuah kabar gembira. Sebagai tindak lanjut dari workshop selama seminggu di Tompobulu, Penerbit Ininnawa menantang peserta untuk menuliskan masing-masing sebuah cerpen bertema perempuan dan lokalitas untuk kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dalam sebuah antologi. Hal serupa pernah dilakukan tahun sebelumnya. Workshop Penulisan Novel yang dilaksanakan oleh Penerbit Ininnawa bekerja sama dengan Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY) dan Kafe Baca Biblioholic juga menghasilkan sebuah antologi cerita pendek. Setapak Salirang: Kumpulan Cerita Pendek dari Sulawesi Selatan, judul antologi cerpen bertema budaya Sulawesi Selatan itu, diterbitkan oleh InsistPress Yogyakarta.
Kabar itu disambut riang oleh peserta. Mereka lalu menyepakati untuk tidak mengakhiri workshop. Maka, saban Minggu pukul 11 siang, mereka akan berkumpul saling mendiskusikan karya mereka. Setiap pertemuan mereka akan mendiskusikan tiga buah cerpen dari tiga peserta ditambah dengan diskusi cerpen yang dimuat di koran hari itu.
Di Kafe Ininnawa, Minggu 10 Desember 2006, peserta berkumpul untuk pertama kalinya. Pekan pertama Sekolah Cerpen Minggu itu membahas cerita pendek karya Rosa Amelia, Shanti Yani Natsir, dan Wa Ode Nahla. Dari tiga cerpen itu, terbaca banyak perkembangan dibandingkan dengan tulisan yang mereka kumpulkan sebagai syarat menjadi peserta workshop. Sambil menikmati aneka minuman, mereka terlihat antusias membahas cerita pendek hasil kerja mereka.
Semoga Women Write Novel dan Sekolah Cerpen Minggu ini akan menghasilkan penulis perempuan dari Makassar. Kita nantikan.
Situs dibuat dengan SPIP 1.9.2 + ALTERNATIVES
