ININNAWA

PROFIL: Media Kajian Sulawesi

Kamis 8 Maret 2007

Daya cipta dan inovasi masyarakat lokal sudah semakin surut akibat model pemerintahan sebelumnya yang menerapkan sistem top-down. Mereka semakin tidak percaya diri dan merasa inferior. Padahal, jika melihat lebih dalam ada banyak yang bisa mereka sumbangkan terhadap pembangunan negeri ini. Kerja yang telah mereka lakukan kurang mendapatkan pengakuan dan imbalan yang sepadan. Hingga pada akhirnya mereka akan kehilangan jati diri.

Jelajah cepat

Untuk itulah lembaga kami, yang berdiri bulan April 2002, ini hadir. Kami berharap dapat turut serta membantu masyarakat lokal menemukan jati dirinya dalam proses pembangunan menuju kemandirian yang lebih tinggi di dalam masyarakat global yang bermartabat.

Kami hendak menjadi media informasi terpercaya, yang mengumpulkan dan menyebarkan informasi tentang perwujudan jati diri masyarakat lokal dalam proses pembangunan. Hingga akhirnya akan terkumpul informasi yang bermutu dalam berbagai bentuk, sebelum menyebarkannya kepada pihak yang berkepentingan,

Apa yang sudah kami lakukan

I. Membuat Dokumenter Innovator Desa

Ibu Syarifah Tenri Ampa adalah seorang penggerak masyarakat di Desa Bonne-Bonne Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Dia telah membantu mendirikan 13 Taman Kanak-Kanak, sebuah Sekolah Dasar (Ibtidaiyah), sebuah Sekolah Menengah Pertama (Tsanawiyah), dan sebuah Sekolah Menengah Atas (Aliyah). Dia juga membantu mengadvokasi banyak tindak kekerasan terhadap orangtua dan anak, hingga dia diusung menjadi ketua Lembaga Perlindungan Anak dan banyak lagi jabatan di lembaga serupa.

Dokumenter ini kemudian diserahkan kepada Ibu Syarifah yang kemudian menontonnya bersama warga setempat.

II. Pelatihan Penelitian Lapangan

Mengajak orang kota untuk kembali ke desa dan mengenali ulang kehidupan desa secara lebih seksama dan empatik. Selama ini orang kota mempunyai kecenderungan memandang orang desa sebagai masyarakat tertinggal. Sementara orang desa semakin lama semakin percaya akan hal ini, yang menyebabkan mereka kehilangan percaya diri jika berhadapan dengan orang kota. Lambat laun kerja keras dan karya-karya inovasi mereka demi menunjang kehidupan seluruh umat manusia semakin kurang dihargai.

FASID-FWP Bermitra dengan Foundation for Advance Studies on International Development, Jepang. Program ini adalah pelatihan penelitian lapangan berdurasi tiga minggu, yang diperuntukkan bagi mahasiswa pasca sarjana dan professional muda dari Jepang dan Indonesia serta mahasiswa yang sedang belajar atau bekerja di kedua negara ini.

Tahun 2004 dan 2005, kami menyelenggarakan tiga kali program.

Desa Kanreapia, Gowa Sulawesi Selatan pada bulan Agustus 2004. Diikuti oleh 30 peserta dari Jepang, Indonesia, Filipina, Kanada, Australia, dan Inggris.

Desa Mirring, Kab. Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Sebuah desa pantai berjarak sekitar 14 kilometer dari ibukota kabupaten. Kebanyakan penduduknya bekerja musiman sebagai petani dan nelayan. Program ini berlangsung tanggal 28 Februari -18 Maret 2005. Diikuti oleh 20 peserta. 11 peserta dari Jepang, 7 dari Indonesia, dan masing-masing seorang dari Vietnam dan Belgia.

Desa Gunung Perak, Kab. Sinjai, Sulawesi Selatan. Agustus-September 2005. Diikuti 20 peserta dari Jepang, dan Indonesia.

Youth Camp

Terlaksana berkat kerjasama dengan Rumah Kamu, sebuah lembaga yang gerak di bidang pemberdayaan generasi muda.

Tahun 2004. Berlangsung tanggal 3 – 13 Januari 2004 di Desa Pao, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Diikuti oleh 23 siswa-siswi dari 16 sekolah di 6 kabupaten kota di Sulawesi Selatan.

Tahun 2005. Berlangsung tanggal 4 – 14 Januari 2005 di Desa Mosso, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Diikuti oleh 24 siswa-siswi dari 14 sekolah dari 6 kabupaten kota di Sulawesi Selatan dan Barat.

III. Menerbitkan buku

Beberapa buku yang telah kami terbikan adalah;

Warisan Arung Palakka, Sejarah Sulawesi Selatan Abad ke-17 (terjemahan dari Leonard Andaya, The Heritage of Arung Palakka; A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century, The Hague, Martinus Nijhoff, 1981 (Verhandelingen KITLV,91)).

Buku ini menggambarkan proses runtuhnya kerajaan besar di Sulawesi Selatan pada masa itu bersama dengan kekacauan social yang masih dirasakan dampaknya hingga kini. Perubahan yang terjadi kemudian tidak atas dasar keinginan atau kedaulatan masyarakat lokal, sebab pranatanya telah dihancurkan dan digantikan dengan pranata yang dikendalikan pihak kolonial belanda. Buku ini sangat penting untuk mempelajari proses keruntuhan sebuah peradaban lokal yang diganti dengan peradaban baru yang menghasilkan kebingungan yang meluas dalam jangka waktu lama.

Penyakit Minamata (diterjemahkan dari Minamata Disease, Harada Masazumi, 2002,)

Sebagai reaksi dari kasus Buyat, yang terjadi di beberapa desa di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Buku ini berisi pengalaman penemuan Penyakit Minamata dan proses advokasi terhadap masyarakat yang menjadi korban dari pencemaran limbah pabrik kimia Chisso, beberapa dekade lalu. Peluncuran buku ini banyak mendapat perhatian masyarakat sebab isu tentang pencemaran sedang hangat-hangatnya, dan penulis buku ini, Harada Mazasumi, menyempatkan diri datang membawakan ceramah tentang kasus panjang ini. Kami juga sempat mengunjungi Buyat pada 23-25 April 2005, untuk melihat langsung kondisi desa tersebut, setelah kasus ini menjadi konsumsi khalayak luas.

Makassar 0 Kilometer, Media Kajian Sulawesi, 2005.

Buku ini merekam budaya pop di Makassar dan sekitarnya, merangkum 49 pernik tentang kota tua ini, mulai dari kuliner, ruang sosial, aktifitas sosial, dan fenomena unik yang ada di Makassar. Buku ini membuktikan bagaimana masyarakat lokal, di masa lalu, atau dari daerah lain, ternyata memberi kontribusi besar terhadap kehidupan sosial masyarakat kota. Mereka misalnya menyumbang berbagai kuliner yang kini dinikmati masyarakat kota, juga lagu-lagu dan anekdot yang kini beredar luas di kota.

IV. Workshop Penulisan Fiksi

Salah satu media yang cukup berterima di masyarakat kota adalah cerita fiksi. Lewat jenis tulisan ini, sang penulis dapat menyampaikan pengalamannya dan terbaca dengan mudah oleh pembaca. Oleh karena itu media ini bisa menjadi media alternatif untuk memperkenalkan pernik kehidupan masyarakat lokal.

Bekerja sama dengan INSIST (Indonesian Society for Social Transformation), AKY (Akademi Kebudayaan Yogyakarta), dan PPLH (Pusat Pelatihan Lingkungan Hidup) Puntondo Takalar, kami menggelar workshop penulisan Fiksi, di desa Puntondo, Takalar. Dalam kegiatan ini, kami juga melakukan pengamatan lapangan dan pemetaan kehidupan sosial masyarakat desa tersebut, sebagai salah satu metode yang dipergunakan dalam menyusun sebuah cerita fiksi. Hadir sebagai fasilitator adalah Puthut EA, Hasta Indrayana, dua penulis muda dari AKY, dan Roem Topatimasang dari INSIST.

Peserta workshop ini adalah penulis-penulis muda, mahasiswa dan siswi SMA. Sebagian di antara mereka adalah penulis yang telah mempublikasikan karya-karyanya di media-media cetak di Makassar.

Hasil langsung dari workshop ini adalah sebuah cerita pendek bertema lokal dari setiap peserta. Karya-karya ini diterbitkan bekerjasama dengan INSISTPress, Yogyakarta.

V. Penelitian Lapangan Kapas Transgenik

Kapas transgenik telah ditolak di mana-mana, sebagai bentuk protes petani dan lembaga swadaya masyarakat terhadap dampak negatif dari teknologi pertanian mutakhir ini, tidak terkecuali di Sulawesi Selatan. Namun, Sulawesi Selatan malah sempat menjadi tempat uji coba tanaman ini.

Kami meneliti dampak sosial setelah kapas ini tidak lagi ditanam di Kabupaten Bulukumba atas desakan berbagai pihak. Penelitian lapangan ini dilaksanakan oleh sebuah tim yang terdiri dari empat orang, pada paruh pertama bulan Januari 2006. Selama penelitian ini mereka tinggal di desa Lolisang Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.


Halaman Depan | Kontak | Peta Situs | Area pribadi | Statistik | kunjungan: 35367

Situs dibuat dengan SPIP 1.9.2 + ALTERNATIVES

     RSS id RSSMedia Kajian Sulawesi   ?

Creative Commons License