Komunitas Ininnawa
PROFIL: Ininnawa, Ketika Niat Baik Saja Tak Lagi Cukup
Rabu 7 Maret 2007

Ininnawa mitu denre sisappa, sipudoko, sirampe teppaja.
Hanya budi baik yang akan saling mencari, saling menjaga, dalam kenangan tanpa akhir.
(Pepatah Bugis)
Jelajah cepat
- Lahirnya Komunitas Ininnawa, p1
- Rumah KAMU, p1
- Media Kajian Sulawesi, p1
- Biblioholic, p1
- Penerbit Ininnawa, p1
KEBERHASILAN gerakan mahasiswa menjungkirkan Soeharto dari tahta kepresidenan di tahun 1998 telah mengilhami kaum muda untuk yakin bahwa perubahan tidaklah mustahil. Angin perubahan juga berhembus ke benak sekolompok mahasiswa jurusan Sastra Inggris, Universitas Hasanuddin. Mereka percaya perubahan sosial yang hakiki hanya bisa dilakukan dengan cara-cara transformatif. Bukan sekadar mengumbar kemarahan pada sistem yang menindas. Tetapi menumbuhkan kesadaran kritis seluruh lapisan masyarakat agar memahami isu-isu sosial secara jernih, terutama di kalangan mahasiswa sendiri.
Di mata mereka, membaca adalah salah satu jalan paling efektif untuk membuka pikiran khalayak luas. Sayangnya, buku adalah barang asing. Atau mengutip Taufik Ismail, bangsa Indonesia adalah bangsa yang buta baca. Meski secara teknis tak buta huruf, tak banyak orang yang benar-benar berminat menjadikan membaca sebagai sesuatu yang memperkaya kejiwaan dan patut dinikmati. Bahkan para mahasiswa pun tak luput dari kenyataan miris ini.
Di awal tahun 1999, kelompok mahasiswa ini, dengan beranggotakan 12 orang, melakukan penelitian tentang minat baca mahasiswa di jurusan mereka. Hasilnya tak terlalu mengejutkan. Hanya 30% mahasiswa yang mengaku rutin membaca. Bahkan untuk menyelesaikan tugas kuliah sekalipun, mereka merasa tak perlu membaca. Alasannya, sebagian mengaku tak punya buku yang menarik untuk dibaca. Sebagian lagi, menganggap baca buku adalah aktivitas yang tidak “gaul”. Ini kian diperparah oleh kondisi perpustakaan yang nyaris seperti ruang terabaikan.
Temuan ini mendorong mereka melakukan aksi nyata untuk mengatasinya. Mereka lalu mengumpulkan buku-buku koleksi pribadi dan menjalankan kampanye baca. Setiap hari, tiap anggota kelompok ini membawa buku di tasnya dan mempromosikannya ke teman-temannya. Bak penjual obat keliling. Tentu saja, mereka harus membaca buku-buku itu terlebih dulu, sebelum memutuskan buku mana yang bisa menarik perhatian mahasiswa paling ”alergi” membaca sekalipun.
Lahirnya Komunitas Ininnawa
SEIRING berjalannya waktu, ketika sebagian besar anggota Ininnawa menjelang menyelesaikan kuliahnya, mereka lalu memutuskan untuk mendirikan organisasi. Pada bulan Juni 2000, Pusat Kajian Budaya Ininnawa akhirnya disahkan di hadapan akte notaris. Ininnawa berasal dari bahasa Bugis yang artinya niat baik atau visi. Dalam anggaran dasarnya tercantum tujuan pembentukan organisasi ini adalah ‘melahirkan individu-individu dalam masyarakat yang bertanggung-jawab untuk memahami dan memberdayakan nilai-nilai budaya lokal”.
Dewan pendiri, sekaligus pengurus, memutuskan untuk meluncurkan pendirian Ininnawa dengan menyelenggarakan festival buku besar-besaran. Namun, kendala dana menghadang. Untunglah, mereka diminta bekerja sebagai tim enumerator untuk sebuah proyek bernama DELIVERI (Decentralization of Livestock Services in Eastern part of Indonesia), yang didanai oleh DFID Inggris dan Pemerintah Indonesia. Mereka bersepakat menyisihkan gaji dari pekerjaan ini untuk mendanai festival tersebut.
Kesuksesan acara publik pertama ini memompa semangat pengurus Ininnawa untuk melanjutkan misinya. Mereka memfokuskan kegiatan pada kampanye minat baca dan pengumpulan dan penerjemahan buku-buku tentang Sulawesi Selatan. Koleksi perpustakaan mereka juga terus bertambah berkat sumbangan buku dari Japan Foundation dan berbagai individu yang peduli dengan aktivitas mereka. Salah satu yang paling signifikan adalah Gail dan Gary, sepasang suami istri yang pernah bekerja sebagai konsultan pengembangan masyarakat, di mana Nurhady, salah seorang pendiri Ininnawa bekerja sebagai penerjemahnya.
Sebagai organisasi, tidak mudah bagi Ininnawa untuk tetap pada khittahnya. Ininnawa harus mampu menjawab minat para anggotanya, baik yang lama maupun baru, yang terus berkembang dan datang dari berbagai latar belakang. Ini mesti dilakukan untuk menjamin Ininnawa tetap berfungsi sebagai ruang belajar dan ruang kreasi bagi semua anggotanya. Sesuai tekad awal pendirian lembaga ini. Lembaga ini mesti berjuang untuk tetap hidup dan berkarya. Sebagai organisasi yang dibangun atas prinsip kesukarelawanan, tak pelak lagi akses terhadap informasi dan sumber dana menjadi masalah klasik, sekaligus akar dari berbagai masalah lainnya. Untuk tetap bergerak dengan dana minim, Ininnawa memilih berkolaborasi dengan kelompok-kelompok lain, dengan atau tanpa memasang nama Ininnawa. Ini ternyata cukup membantu memperluas jaringan dan menjadi proses belajar yang sangat berguna. Memang sejak awal mereka berusaha untuk melaksanakan kegiatan dengan dana yang mereka kumpulkan sendiri. Hasil dari pekerjaan-pekerjaan jangka pendek yang diperoleh oleh anggota Ininnawa ataupun sebagai organisasi. Entah sebagai peneliti, penerjemah, bahkan event organizer. Ini demi menjaga semangat kemandirian yang sangat dijunjung tinggi lembaga ini sejak awal berdirinya.
Salah satu bentuk keterlibatan mereka yang patut disebut adalah Festival dan Seminar Internasional La Galigo, yang diselenggarakan oleh Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian, UNHAS. Acara yang dilaksanakan pada Maret 2002 ini dihadiri oleh ilmuwan dan budayawan dari berbagai belahan dunia.
Contoh lain adalah Program Pelatihan Penelitian Lapangan yang diadakan oleh FASID (Foundation for Advanced Studies on International Development), sebuah pusat studi yang berbasis di Tokyo. Program tahunan, yang diselenggarakan sejak 2002 dan diikuti mahasiswa pasca sarjana dan professional muda dari Jepang, Indonesia, dan mahasiwa internasional yang sedang kuliah di Jepang, telah berlangsung di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan.
Lewat kedua kegiatan ini pengurus Ininnawa, yang terlibat dalam kapasitas pribadi, bertemu orang-orang yang bersimpati dengan aktivitas mereka. Banyak dari mereka yang memberikan dukungan nyata terhadap pertumbuhan Ininnawa, baik dengan memberi sumbangan dana , maupun informasi untuk kian memperluas jaringan Ininnawa. Kemampuan bahasa Inggris dan semangat belajar pengurus Ininnawa membuat ruang belajar mereka tanpa batas. Berkat internet mereka bisa berkomunikasi dengan para simpatisan ini, yang juga terus mempromosikan Ininnawa dari mulut ke mulut.
Di sisi lain, kian meluasnya jaringan pertemanan Ininnawa membuat aktivitas organisasi yang basis keanggotaannya amat cair ini terus melebar. Bahkan, belakangan berdiri organisasi-organisasi yang dikelola oleh orang-orang Ininnawa, namun Ininnawa sebagai pusat kajian budaya nyaris mati suri.
Rumah KAMU
Rumah KAMU (Kaum Muda) adalah organisasi non-pemerintah yang bekerja di bidang pendidikan alternatif untuk remaja. Lembaga ini didirikan pada tahun 2003 oleh alumni Program Pelatihan Penelitian Lapangan FASID, dimana dua pendiri Ininnawa juga terlibat dalam proses pendiriannya. Misi Rumah KAMU adalah menjadi Ornop terpercaya dalam memfasilitasi kaum muda untuk tumbuh dengan pikiran kritis, bersedia memberi sumbangsih nyata terhadap masyarakat sekitar, dan dunia. Salah satu kegiatan utamanya adalah Youth Camp, pelatihan penelitian lapangan untuk siswa/i SMA.
Media Kajian Sulawesi
Lembaga ini berdiri pada tahun 2002 oleh sejumlah mantan fasilitator program FASID. Tujuan pembentukannya adalah melibatkan diri dalam membantu masyarakat lokal menemukan identitas mereka dalam proses pembangunan, agar memiliki kepercayaan diri lebih tinggi dalam percaturan global. Selain itu, organisasi ini juga bercita-cita untuk menjadi media informasi terpercaya yang mengumpulkan dan menyebarkan segala informasi tentang pewujudan identitas komunitas lokal dalam proses pembangunan.
Biblioholic
Biblioholic adalah kafe baca yang dimiliki oleh Ininnawa. Ide dasarnya adalah menyediakan ruang yang yaman bagi para pencinta buku untuk berkumpul. Kafe baca ini juga menjalankan pelatihan menulis kreatif serta diskusi buku rutin.
Penerbit Ininnawa
Ini adalah wujud lain dari proses metamorfosa di tubuh Ininnawa. Penerbit ini diniatkan menjadi salah satu ujung tombak penyebaran gagasan tentang identitas lokal dan perubahan sosial secara umum. Terbitan pertamanya, Warisan Arung Palakka, diluncurkan pada April 2004.
Situs dibuat dengan SPIP 1.9.2 + ALTERNATIVES
