ININNAWA

Menatap Makassar dari Geladak Kapal Dagang

oleh Nurhady Sirimorok

Senin 5 Maret 2007

Lebih empat ratus tahun lalu, pada Februari 1605, Sulaiman—kelak lebih dikenal dengan nama Dato’ ri Pa’timang—mengislamkan Luwu’. Ini merupakan awal dari Islamisasi besar-besaran Sulawesi Selatan yang berlangsung amat luas dan cepat. Fenomena ini mengubah wajah jazirah ini, membawanya ke zaman kejayaannya.

Namun sayang, peristiwa besar ini jarang dijadikan sebagai pijakan dalam melihat perkembangan peradaban di Sulawesi Selatan. Salah satu alasannya, determinasi ekonomi terlalu dominan dalam studi sejarah kawasan ini. Ekonomi dijadikan sebagai faktor utama penggerak perubahan. Padahal, tema ini mesti diperluas untuk lebih lengkap merekonstruksi sejarah masa itu.

Salah satu alasan utama mengapa tema ini mesti diperlebar adalah untuk mengikis kecenderungan ilmuan yang hanya memperhatikan aspek ekonomi dalam mengkaji sejarah Asia Tenggara. William Cummings (2002) dalam bukunya Making Blood White, mengkritik Anthony Reid yang menjadikan perdagangan sebagai titik sentrum perkembangan politik di Asia Tenggara. Reduksi ini, menurutnya, bahkan sudah tergambar jelas dalam judul kecil buku Reid (1993), In The Age Commerce (‘Dalam Kurun Dagang’ menurut terjemahan Mochtar Pabottingi).

Dalam bukunya ini, Cummings melihat bahwa rekonstruksi sejarah akan bolong di sana-sini jika hanya memperhatikan sumber sejarah dari catatan Eropa. Pendatang Eropa yang bertandang ke Makassar pada masa itu didominasi para pedagang pengelana, atau perusahaan dagang. Tak pelak, catatan yang ditinggalkannya, yang kini tersimpan rapi di berbagai perpustakaan di Eropa, adalah catatan yang berhubungan dengan perdagangan.

Kecenderungan ini juga diungkap Taufik Abdullah dalam pendahuluan buku Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara (1999). Dia mengutip van Leur bahwa sejarah Indonesia selalu ‘dilihat dari dek kapal dan jendela loji’, yakni hanya dari perspektif barat, dan bersifat fragmentaris. Mengikuti garis pemikiran orientalisme Edward Said, dia menuding sejarawan barat cenderung melakukan seleksi bahan baku sebelum mengkaji sebuah masa di sebuah tempat. Sehingga tak heran jika yang mencuat adalah tema-tema yang mereka inginkan. Mereka cenderung mengabaikan sumber-sumber yang berhubungan dengan Islam, sebagaimana juga dibeberkan dengan nada jengkel oleh Nancy Florida dalam bukunya tentang naskah-naskah Jawa abad 19, Menyurat yang Silam Menggurat yang Menjelang: Sejarah Sebagai Nubuat di Jawa Masa Kolonial (2003 [1995]).

Kembali ke Makassar. Bila kita hendak merekonstruksi sejarah Makassar abad ke-17, setidaknya ada dua tema yang cukup penting untuk diperhatikan. Pertama, penyebaran Islam, yang dengannya terbawa perubahan dalam struktur sosial-politik, perubahan paradigma kecendikiaan dan kepercayaan religius masayarakat Gowa pada masa itu. Dan kedua, berkembangnya budaya tulisan.

* * *

Diadopsinya Islam oleh Raja Tallo dan Gowa pada tahun 1605, telah membawa perubahan pada struktur pemerintahan Gowa (meski Islam kemungkinan telah bersentuhan dengan negeri ini sejak seabad sebelumnya). Raja dijadikan pemimpin religius, dan posisi kadhi menjadi penting di istana Gowa. Hal ini menjelaskan mengapa pada masa itu posisi kalompoang (regalia) kerajaan menjadi tidak lebih penting dibanding raja. Menurut Cummings (2002) pada abad ke-16 dan 17, posisi raja lebih tinggi dari kalompoang, sementara setelah jatuhnya Makassar ke tangan Belanda, posisi kalompoang kembali direhabilitasi sebagai ‘perwujudan’ si empunya kerajaan, yaitu para dewa.

Datangnya ajaran Islam menghubungkan Makassar dengan dunia Islam yang membentang di sepanjang Asia. Dalam buku Jaringan Ulama, Azyumardi Azra (2004), memasukkan Syaikh Yusuf sebagai penyebar agama Islam di wilayah ini. Dan dengan demikian, Makassar menjadi salah satu sentrum dalam penyebaran ajaran Islam. Ia mendebat bahwa abad ke-17 merupakan masa yang penting, meski sering dianggap masa ‘gelap’ Islam, karena kajian sejarah yang menekankan pada entitas politik, yang memang sedang mengalami surut pada masa itu. Ia ingin membuktikan bahwa abad-17 dan 18 adalah masa paling dinamis dalam ‘sejarah sosial intelektual Islam’ di Asia Tenggara.

Di Sulawesi Selatan, penyebaran ajaran Islam dan pembaruan yang mengiringinya tidak berjalan mulus. Menurut Pelras dalam The Bugis (1996), sekitar tahun 1575, Abdul Makmur (Dato’ ri Bandang), seorang pendakwah Islam asal Minangkabau tiba di Sulawesi Selatan untuk pertamakalinya. Dalam upayanya menyebarkan ajaran Islam, ia terhambat pada berbagai hal seperti kegemaran masyarakat makan daging babi kering, hati rusa mentah yang dicincang dan disajikan dengan darah (lawa’), serta kebiasaan minum tuak. Karena merasa tidak mampu, dia pindah ke Kutai, di mana ia lebih berhasil.

Pelras juga mengungkap kendala lain yakni resistensi kaum bangsawan penguasa. Menurutnya, “Keengganan penguasa-penguasa ini mungkin berhubungan dengan prinsip egalitarian para pedagang yang tidak berasal dari kelas bangsawan, serta penekanan Islam akan Mahaesa dan Mahatinggi-nya Tuhan. Konsep ini dikhawatirkan akan mengancam kekuasaan para penguasa Bugis, yang terlanjur memperoleh kekuasaan berdasarkan status mereka sebagai keturunan dewata.”

Ajaibnya, dalam catatan seorang jesuit Perancis, Nicholas Gervais, yang ditulis dalam Historical Description of The Kingdom of Macassar (1688), memperlihatkan hal yang sebaliknya. Ia menyajikan banyak deskripsi menarik dari fakta-fakta tentang kehidupan religius orang Makassar pada abad ke-17—meski tak luput dari beberapa kesalahpahaman. Dalam deskripsinya terlihat bahwa peran para Ajji (Haji) begitu besar dalam kehidupan orang Makassar. Peran penting mereka bukan hanya pada ritual Islam seperti salat, tetapi juga pada upacara kelahiran, sunatan, pernikahan, hingga kematian. Para Ajji juga menjadi tokoh kunci dalam pendidikan anak-anak, misalnya mengajar mengaji dan pengetahuan agama, serta membina para labe (lebai) dan santari (santri).

Fenomena ini membuat heran ahli Sulawesi Selatan sekaliber Christian Pelras sekalipun. Dia bertanya-tanya, “setelah resistensi yang begitu hebat, ternyata hanya perlu waktu beberapa tahun saja sebelum hukum (syariat) Islam mulai diberlakukan, dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kebudayaan Makassar, Bugis, dan Mandar” (Pelras 1996).

* * *

Berkembangnya tradisi tulis menyebabkan sentralisasi politik di Makassar semakin efektif. Lontara’ menjadi salah satu alat untuk menunjukkan superioritas Gowa, sesuatu yang amat penting bagi kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan pada masa itu. Dalam buku Warisan Arung Palakka, Andaya (2004 [1981]) mengungkapkan bahwa konsep mare liberum, kebebasan di laut, hanya berlaku setelah strata kerajaan ditetapkan. Jika ada yang mencoba mengganggu status ini dengan alasan apapun, termasuk perdagangan, itu berarti mengancam status kerajaan—bukan hanya perdagangannya.

Menurut Cummings (2002), setelah jatuhnya Makassar lontara’ bilang tidak ditulis lagi, karena telah kehilangan makna. Superioritas telah lenyap dan masa suram tak pantas untuk ditulis. Hal ini menjelaskan mengapa orang Makassar tidak menulis catatan perdagangan dan pelabuhan, sastra atau religius tract. Kebanyakan hanya merupakan terjemahan, dan sinrili’ justru ditulis dari tradisi lisan. Mereka hanya menulis sejarah. Sejarah tentang penguasa.

Selain itu, aksara juga memegang peranan penting dalam penyebaran ajaran-ajaran Islam, yang berarti mengangkat masyarakatnya dari dunia animisme ke dunia yang lebih mengandalkan akal. Ulama Syaikh Yusuf menyumbangkan banyak risalah keagamaan untuk masyarakat Sulawesi Selatan. Padahal sebelumnya tulisan di atas daun lontar ini bagi kebanyakan masyarakat hanya dijadikan alat sesembahan atau sebagai jimat. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya jika ajaran Islam tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Makassar. Cummings (2002) mencatat bagaimana tulisan arab digunakan sebagai mantra karena tidak dipahami. Hal serupa pernah terjadi pada agama Kristen, di mana kaum gereja memegang otoritas kebenaran, dan bertindak otoriter hingga Martin Luther menerjemahkan Injil ke bahasa Jerman.

Tulisan juga berperan membawa Makassar pada abad ke-17 ke dalam pusaran teknologi. Pada masa itu, banyak naskah-naskah berisi kajian teknologi dari bahasa asing dapat dinikmati masyarakat karena diterjemahkan ke dalam bahasa Makassar. Lontara’ tentang teknologi militer, misalnya tentang pembuatan benteng, kini masih dapat kita temui di Arsip Nasional Makassar.

Jadi, perdagangan hanyalah salah satu dari sekian banyak elemen yang berjalin kelindan dan berdialektika dalam membentuk wajah Makassar abad ke-17. Perdagangan bukan titik sentrum, bukan faktor dominan.

* * *

Lubang besar yang masih menganga dalam studi sejarah kita kini adalah studi tentang sejarah orang-orang bawah, yang juga berperan membangun Makassar menuju sebuah emporium yang disegani. Menurut Paul Thompson (2000) dalam Voice From The Past: Oral History, sejarah orang-orang bawah tidak pernah tercatat dalam arsip-arsip yang biasanya dibuat oleh kalangan atas. Sementara kalangan bawah, yang kebanyakan buta huruf, tidak dapat menuliskan sejarahnya sendiri. Maka, kita mesti menggalinya dari sejarah lisan.

Jadi, sudah saatnya kita tujukan perhatian untuk mengenal Mangkawa si pandai besi, atau Sangkala si penjaga mesjid, atau orang-orang biasa, tokoh-tokoh anonim lainnya untuk melengkapi wajah sejarah Sulawesi Selatan yang masih belum menunjukkan wajah sejarah seutuhnya. Padahal mereka juga merupakan keping peradaban Sulawesi Selatan, yang sayang hingga kini masih dianggap tak ‘bernilai bersejarah’.

Tulisan ini juga bisa dibaca di sini.


Halaman Depan | Kontak | Peta Situs | Area pribadi | Statistik | kunjungan: 44719

Situs dibuat dengan SPIP 1.9.2 + ALTERNATIVES

     RSS id RSSMedia Kajian Sulawesi RSSRiset   ?

Creative Commons License